Tidak ada kebahagiaan selain hati penuh iman melayang tinggi ke langit Allah bersama - sama.
Bersama nafsu birahiku. Bersama cinta sesatmu. Bersama langkah khilafku. Bersama api amarahmu. Bersama lidah manisku. Bersama dosa ku & dosa mu.
Nikmati syurga bersama keluarga.
Pagi ini (Jum’at, 9 January 2009 di 07:15 WIB) aku membaca sebuah surat kabar online yang meng-update berita – berita mengenai perkembangan peperangan yang tengah berkecamuk di Palestina. Dimana korban tewas meningkat menjadi 763 orang dan 3000 an orang cedera. Padahal masih diharian yang sama, persis SATU hari sebelumnya, diberitakan korban tewas 670 orang palestina.Innalillahi..93 orang dalam satu hari...atau bahkan sebenarnya lebih dari yang diberitakan!!! Rumah sakit, Kantor Pemerintah, Gedung sekolah bahkan gedung sekolah milik PBB menjadi incaran bom dan peluru - peluru Israel. Angka ini belum berakhir.. Saat Anda baca tulisan ini..kuyakin korban terus bertambah. Kebiadaban Israel memang telah melampaui batas kemanusiaan dunia..
Tapi teman...sadarkah mungkin ini semua terjadi sedikit banyak lantaran andil kita sendiri, sebagai satu dari sekian banyak ummat Islam.
Persis tiga tahun yang lalu, di Januari 2006. Dimana Komisi Pemilihan Palestina mengatakan kelompok militan Hamas meraih 76 dan Al Fatah 43 kursi dari 132 kursi di parlemen. Dengan 77% warga Palestina yang berhak memilih menggunakan hak pilihnya. Fenomena kemenangan Hamas yang selama ini memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan gerakan intifadha, yang telah benar – benar menyatu dengan rakyat Palestina, yang juga mendapatkan cap sebagai organisasi teroris oleh Israel dan sekutunya (Amerika & Uni Eropa). Maka...Bukankah kemenangan ini adalah kemenangan ummat Islam? Kemenangan kita yang simpatik dengan perjuangan Hamas dan rakyat Palestina???
Ingatlah persis tiga tahun lalu...adakah kita berucap syukur, memuji kebesaran Allah, bahkan hingga merebahkan diri kita dalam sujud syukur kita yang panjang saat mendengar beritanya??? sujud syukur sepanjang dan sedalam hati – hati ini yang miris dengan ummat islam Palestina. Air mata syukur yang mengalir deras sederas air mata kepedihan kita dengan Palestina saat ini? Adakah saat itu organisasi – organisasi Islam marak memperingati kemenangan ini? Seperti sekarang dimana ummat Islam dan non muslim diberbagai belahan dunia turun ke jalan mengecam kekejian Israel sebagai aksi solidaritas mereka?
Entah kemenangan..kemenangan apa lagi yang dicapai oleh saudara – saudara kita di Palestina, namun kita tidak merespons nya kembali kepada Allah. Bukankah mensyukuri yang sedikit akan membawa yang besar? Tangan ini terlalu kecil untuk membantu, kaki ini juga terlalu pendek untuk melangkah, lidah ini juga tak selalu tegar untuk berkoar meneriakkan. Pemboikotan terhadap produk2 yahudi juga hanya mampu kita lakukan dan dengungkan tak lebih dalam hitungan sekian bulan. Selebihnya? Kita kembali kepada ketergantungan. Demikianlah..karna kita masih lemah.
Bahwa sesungguhnya, dukungan – dukungan dzahir (fisik/ yg tampak) kita terhadap kemenangan perjuangan Palestina sekecil apapun itu. Juga adalah salah satu upaya psico war yang bisa kita lancarkan terhadap Israel dan sekutunya. Dan tak jarang dalam sebuah peperangan, kemenangan psikis membawa pada kemenangan dzahir atau politis.
Jikalau kita benar sayang..maka perhatian tak hanya dilimpahkan disaat duka tapi juga sebaliknya. Jikalau benar cinta..maka kasih sayang tak hanya tercurah saat semua orang menoleh padanya. Jikalau benar iba..maka doa tak hanya terlantunkan saat demo turun ke jalan tapi juga saat bersimpuh sendirian.
Hanya dan hanya atas izin Allah Yang Maha Perkasa semuanya terjadi. Kedamaian. Ketenangan. Dan kemenangan di Palestina.
Mari angkat kedua belah telapak tangan kita dan lantunkan doa, mungkin saja dari lidah saudaranya yang lemah ini, doa itu terkabulkan. Dan sesungguhnya malaikatpun akan mendoakan. ”.....demikian juga untukmu wahai laki – laki dan wanita yang sholih...”
Beberapa Fakta tersebut diambil dari Kompas online dan Koran Tempo.
***** Salurkan bantuan Anda untuk korban perang, konflik dan bencana di seluruh negeri melalui MER-C ke: *****
Bank Central Asia (BCA)
a.n. Medical Emergency Rescue Committee
Rek. No. 686.0153678 (Palestina/Libanon)
Bank Muamalat Indonesia (BMI)
a.n. MER-C
Rek. No. 301.00349.15 (Kemanusiaan)
Rek. No. 301.00521.15 (Palestina)
Rek. No. 301.00522.15 (Iraq)
Bank Syariah Mandiri (BSM)
a.n Medical Emergency Rescue Committee
Rek. No. 009.0121.773 (Palestina)
MER-C akan menyalurkan donasi Anda sesuai dengan amanahnya.
Kirimkan bukti transfer via fax ke 021-3159256 atau email ke merc@indosat. net.id. Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya dengan mencantumkan nama, alamat lengkap dan nomor telepon agar kami dapat mengirimkan bukti tanda terima dana kepada Anda.
Assalamualaikum cintaaaa....??? Met soreeeee... Apa khabarnya??? heheee..emang ini blog, orang ape, bisa diajak ngobrol. Abizz, kuangen banget sama blog aku satu ini. Uda lama gak ngetak ngetik disini. Hmmm..dulu seneng benerrr dehh..baca tulisan sendiri. Malu sendiri. Tersipu2 sendiri. Ge er sendiri. Ketawa sendiri. Hehee..gokil dong.
Yaaa..githu dech. Narsis dot com.
Semuwa ini berawal dari aku sendiri sech.. Heheee...lg2 sendiri. Somewhere in some place, pada suatu hari..seorang ari asri lg rajin ngutak ngatik templete blog ini. Tp lupa simpen yg sebelom ku ubah. Walhasil kayak inilahhh... Link temen2ku ilang. Buku tamuku yg uda diisi ama temen2 or yg cuman numpang lewat juga ilang. Gambar2 icon yg aku senengin juga ilang. *&%^KM_)#($*(*&**(... Bete..Bete..Bete..Bete..aaaaahhhh.
Nah! Uda dehhh..ngambek mode ON alias mutung kasarung. Keluar deh aselinya dirikyu. Ngambek ama diri sendiri. Malez benerin lagi neh blog. Ngedat ngedit. Apalagi nambahin tulisan2. Abis sebbbeeeellllll.
Keseeeelllll....mau ngomel yg mestinya diomelin wanita cantique ini sendiri. Gak ngomel....hhmmm...hhhmmm...sebenernya gak papa juga seh. Hehe.. Tapi gak apdhol aja rasanya. ( hiii ketauan ceriwisnya)
N finally...semangat itu hadir lagi dari seorang teman. Namanya mbak emma. Mbak emma temen satu kantor aku. Yupz! di PT. Murfa Surya Mahardhika Consultan. Dikantor doi jadi sekretaris semua temen2. Soale beliau yg ngangkat telpon pertama kali kalu ada telpon masuk n nyambungin ke orang yang bersangkutan. Trus kalo aku mau nelpon temenku yang didaerah or diluar kantor juga mbak emma mau lho nelponin buat akyu. Baek khan?
Kalu sekarang...doi ada di Divisi Tender. Bantuin Pak Manta n frens untuk nyiapin semuwa administrasi tender proyek. Disini ibu berpasukan 2 orang ini dapet akses inet. So, mbak em bisa chatingan ama aku, malah doi sekarang juga punya blog lho! Keren khan? (Jangan bilang NGGAK!! Berani bilang begitu! aku tunggu di ujung pengkolan lho!!! Mbak emma: "Ngapain?" Ari: "Makan bakso mbak" :-p)
Ceritane di pertengahan bulan lalu..ciee kayak cerpen romantis.. Mbak em (ini panggilan kesayangannya aku n leny) nyetingin aku. Nah ini nihh isinya. Aseli.
emma maniez: mba ari kapan tulisan terbarunya di blog mba ari...... lagi sibuk ya.. ngurusin weding.. kapan.. mba aku tunggu
Ari: :-p
Ari: emang mbak baca yahh?
Ari: hehee..jadi pengen maluuuuu
emma maniez: abisan tulisan mba ari bikin mak nyussss..
Ari: hehee...kayak bondan ajah mbak nehh
emma maniez: he...he.. iya.. bkin adeeemmm
Ari: isi komennta aja mbak
emma maniez: oo.. gitu.. iya deh..
Ternyata bener yahh..apa yg dikatakan Nabi bahwa saudara kita adalah cermin bagi kita sendiri. Sapaan mbak emma yang tulus tanpa beban ngebuat aku jadi bangun dari tidur panjang aku. Nih!! Liat ajah aku lg molet molet bangyun...ehhmmm..uuffff..ooaagghh...
Yoooowww!!...Wan twu triiiii.....Come on! Wake up! Get up Bro!!!
(bacanya sambil pake gaya ngerapp-nya sandra dewi di iklannya telkomsel itu yah! Hihiii...izeng mode on)
tak juga mampu mengaplikasikannya. Bosan juga otakku untuk mencerna!! Sebosan
para ulama yang mungkin saat bertemu sisi sisi manusianya juga bosan dengan
ulahku yang tak juga berubah warna. Hitam jadi kelabu. Kelabu jadi putih. Putih
jadi jernih. Jernih semakin bening. Bening jadi segar. Segar jadi mekar. Mekar
jadi tenar. Di taman syurga-Nya. Uuuuggghhhh kapan kamu begitu???
Jika Allah menganugerahi kesempurnaan indera pada diri kita. Maka melihat.
Mendengar. Merasa. Mengecap. Mencium. Adalah proses tercepat yang dapat
langsung diterima dan menerima respons dari lingkungan luar. Dan selanjutnya
akan berjalan ke simpul simpul syaraf otak, dicerna dengan fikiran dan segenap
hati yang dimiliki untuk kemudian disampaikan! Dengan lisan. Atau tulisan!!
”Allah hadirkan 2 telinga untuk mendengar dan 1 mulut untuk bicara. Tak
lain tak bukan agar kita lebih banyak mendengar dan memilah kata – kata juga
memilih waktu dalam bersuara”. Allah anugrahkan 2 biji mata. Dua telinga. Dua
lubang hidung. Dan banyak lubang pori – pori dikulit kita. Tetapi hanya dan
hanya 1 lidah untuk mengecap juga bersuara. Tak lain dan tak bukan karena
bersuara melalui olah fikiran dan olah qalbu, yang demikian rumit prosesnya,
agar kita lebih hati – hati dalam memanfaatkan. Tak lain dan tak bukan karena
seperti dalam pepatah, bahwa lidah itu tidak bertulang hingga teramat ringan
berbagai kosa kata meluncur darinya.
Dikeseharian, kemanfaatannya hanya ada dua. Bersuara atau diam. Kita yang
mendapatkan nikmat dari Allah ini, sewajarnya jika kita mestilah pandai –
pandai memainkan iramanya. Kapankah diam menjadi solusi. Dimanakah diam malah
jadi tsunami.
Dalam proporsinya diam dan bersuara memiliki tingkat kemuliaannya sendiri –
sendiri. Dalam bersuara kita dapat menyampaikan segala aspirasi dan inspirasi.
Tidak akan pernah ada orang lain yang mampu membaca apa yang kita butuhkan, apa
yang kita inginkan, apa yang kita cita dan cintakan, jika kita tidak sampaikan
dalam satu gerakan, ucapan atau tulisan!!! TIDAK AKAN ADA!! Maka disini, tindakan
adalah jawaban sedang diam adalah mematikan!
Sementara diam dalam proporsinya kita akan mengalami kepekaan intuitif yang
tidak dimiliki oleh tataran teori atau praktek saja. Sehingga pengamalan
yang dihasilkan dengan kepekaan intuitif tadi tentunya menjanjikan amalan yang
lebih bermakna. Tak hanya kosong, kehilangan nilainya.
Seperti yang disampaikan oleh Ivan Illich seorang pemikir di Abad-13 ini dalam Celebration of Awareness, bahwa bahasa ibarat roda. Yang menjadi pusat adalah kata – kata yang terucap. Tapi yang membentuk roda yang melahirkan ucapan justru adalah ruang – ruang kosong tanpa ucapan.
Hmm..teman. Senangnya bisa bersilaturrahiim melalui milis ini. Meski tak saling kenal langsung dalam dunia nyata. Buatku semuanya berharga, dan lebih berharga lagi jika disempurnakan dengan saling taushiyah di Ramadhan ini. Karena mas adalah emas buatku dan karena mbak adalah permata itu. Lidah ini terlalu cantik juga terlalu tampan untuk mengeluarkan
kalimat yang kurang berkenan. Banyak teman – teman yang karena keterbatasannya
hanya bisa membaca setiap tulisan yg ada kemudian diambil ilmunya. Bahkan ada
yang akhirnya mucul dari permukaan (hehee...emang si ulil), karena ukhuwah yang
dirasanya ada disini. Tetap saling jaga yaa...untuk selalu berempati dengan semua. Semoga setelah ini, banyak lagi yang bersedia perkenalkan diri dan ikut diskas share ilmu di milis ini yg pasti semuanya dengan cinta!!! Deuuuuuilee. ...:-p
Have a nice Ramadhan! Maafkan ari lahir bathin..Salam persahabatan.
* Belum ari edit, postingan yg kukirim unt sebuah milis.
Sahabat, sudah menjadi fitrah manusia selalu menginginkan yang sempurna. Karenanya manusia punya cita – cita. Diberikannya akal, jasad dan ruh yang jika dikombinasikan dengan sempurna, bisa menjadi tools ikhtiar kita demi mendapatkan apa yang kita cita citakan.
Jika harapan dan cita – cita sudah mendarah daging dalam dada, mengakar dalam otak, mengalir dalam darah, berdetak dalam irama jantung. Maka jasad, akal dan ruh berusaha mengikutinya. Jasad bersujud. Diwaktu yang lain lidah berdoa, disaat yang sama tangan menengadah, air mata menghiba. Akal bergerak menyusun dan menuntun sang empunya jasad dengan ilmu yang dimilikinya. Merangkai kalimat doa, berfikir tentang cara, mencari jalan atas persoalan, meraih, merangkak dan teruussss berjalan. Berlari. Bergerak menuju cita dalam genggam. Tidak ada zona larangan terbang dalam ranah cita. Tidak ada hak cipta. Tidak ada pajak. Tidak ada seleksi. Tidak ada bea masuk. Tidak ada apa – apa!! Maka apa lagi yang ditunggu???
Masih segar dalam ingatan, perkataan seorang mantan Presiden Amerika. ”Orang yang tidak memiliki cita – cita yang ia rela mati untuknya, adalah orang yang layak mati!!!” Demikianlah. Cita – cita hanya layak dimiliki oleh orang hidup yang hidup. Sebab banyak pula orang hidup yang mati. Yaitu orang – orang yang hidup jasadnya, tetapi tak lagi memiliki cita – cita, putus asa dengan harapan, mundur dengan tantangan, merasa masa depan gelapp serupa pekuburan.
Allah memberi manusia modal untuk berikhtiar, dimana ruang ikhtiar manusia bisa mengekspresikan cita – citanya dengan cara sesuai syariat agama tentunya. Sementara dzikir dan doa adalah ruang komunikasi yang tersedia untuk setiap hambaNya dengan Allah Maha Pencipta. Ruang dimana kita dapat berinteraksi dengan Allah. Ruang dimana kita dapat mengakui dan menyampaikan segala dosa, segala rencana, segala asa, juga cinta. Dunia tidaklah haram untuk digenggam, namun memang tidak layak untuk jadi mahkota hati. Maka ikhtiar ke puncak cita – cita dunia dan akhirat melalui ketajaman akal, dengan kekuatan jasad dan disertai kebeningan ruh adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang ingin hidup dalam kehidupannya.
Selepasnya. Janganlah sahabat lupa..bahwa ada ruang khusus dimana hanya Allah yang Maha Bijaksana memiliki setiap keputusan atas hasil dari ikhtiar. Adalah hak prerogatif Allah untuk memilihkan yang terbaikNya bagi kita. Disini tak ada yang dapat dilakukan seorang hamba, terkecuali sami’na wa atho’na. Dengar kemudian taat. Dengan sepenuh hati. Seindah tawadhu. Sebulat tekat. Sebersih ikhlas.
Maka, adalah kewajiban kita untuk mempersiapkan segala kemungkinan selepas ikhtiar. Adalah keterbatasan mata kita yang memandang satu hal itu membahagiakan atau menyedihkan. Maka mari sama – sama berlindung pada Allah dari terkabulnya doa atau tertundanya, tergantikannya pengabulan doa – doa kita. Seringkali kita mampu tersadar dengan kesedihan, namun alpa dengan bahagia. Padahal kesedihan tak melulu ujian dari Allah bagi seseorang, karena seringkali pula kita justru tergelincir pada kebahagiaan.
” Ya Rabb kami...genggamkan lah dunia ditangan kami dan tidak dihati ini.” Amiin.
* siri peringatan bagi aku yang lupa.
Pernahkah sahabat merasakan jatuh hati pada seseorang? Pastilah bahagia dan senang menjadi tema utama bagi orang yang tengah menikmatinya. Buatku dan pasti juga buat mu..semuanya adalah fitrah jika rasa hati kita senang dengan apa yang kita harapkan kemudian kita mendapatkannya. Entah mendapatkan sesuatu atau seseorang. Seperti firman Allah di surat Ali Imran : 14
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."
Nah, tetapi bagaimana jika kita mendapatkan yang sebaliknya? Coba perhatikan cuplikan puisi ”Sayap Sayap Patah” yang ditulis oleh Kahlil Gibran (lepas dari latar belakangnya, tapi cukuplah kita ambil hikmah yang menyiratkan suasana hati seseorang) berikut ini:
Hati terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap - sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu
Di sudut hati yang beku
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan
Sebelum hilang diterpa angin
Sambil terduduk lemah..
Bukanlah air mata sia – sia jika seiring melelehnya ia dari sudut pelupuk mata ini meningkatkan sinyal hati kita untuk segera tanggap dengan kebaikan. Menggerus debu hati kita hingga ia menghilang. Mensuply energi demi membangun istana Allah disini..dijiwa ini. Membuat kita benci dengan kemaksiatan dalam diri seumpama zaarah sekalipun!!! Bukan..bukanlah itu patah hati.
Juga bukanlah langkah hidup yang bodoh ketika diri berazzam (bertekat) menghentikan keterikatan hati dengan seseorang yang belumlah halal dimiliki sedang pernikahan masih jauh dari awang – awang. Yaa..jika dengan itu mengantarkan beliau kembali pada Allah...mengembalikan lagi hati beliau pada kehakikian cinta... Karena bukankah cinta pada makna terdalamnya memuliakan setiap penikmatnya? Maka jika kita yakini itu adalah baik untuk beliau, apalah arti pengorbanan hati yang kelak akan menghantarkan penikmatnya pada jamuan syurga?
Sungguh. Kebahagiaan itu bukan terpusat pada sesuatu atau seseorang maka ia ada. Tapi pusaran itu ada pada Allah. Maka, patah hati dan jatuh cinta berada pada posisi yang sama tatkala keduanya sama – sama mampu membuat diri ini jauh melambung tinggi di langit cinta-Nya.
Allahu ’alam bishshowab.
Al faqir ilallah
- Aku -
